URGENSI WAWASAN MITIGASI BENCANA BAGI MASYARAKAT


 

URGENSI WAWASAN MITIGASI BENCANA BAGI MASYARAKAT

 

Waktu akhir-akhir ini, Indonesia sedang dalam tekanan pekerjaan internal yang cukup intensif, yang mana tekanan itu dari banyaknya bencana alam di beberapa daerah di negara Indonesia. Belum habis permasalahan merebaknya virus Covid-19 di Indonesia maupun dunia yang angka penularannya belum ada tanda-tanda mereda, Indonesia sudah tertimpa lagi dengan banyak terjadinya bencana. Mungkin akhir-akhir ini alam sedang marah kepada manusia karena perilaku yang tidak semestinya dan suka merusak seenaknya alam lingkungan. Alam seakan-akan menghukum manusia dengan hukuman yang bertubi-tubi. Alam memberi pelajaran kepada manusia bahwa alam adalah tempat tinggal manusia yang harus di jaga dan juga dirawat dengan baik.

Ketika hal yang demikian di atas sedang terjadi, hal yang dipikirkan masyarakat dan pemerintah adalah bagaimana cara meminimalisir terjadinya bencana yang bisa menimbulkan banyak permasalahan di dalam masyarakat. Di samping keharusan menjaga alam dan lingkungan sekitar supaya tetap terjaga dan tidak rusak.

Melakukan mitigasi bencana adalah jawabannya. Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, hal ini tertuang pada Pasal 1 ayat 6 PP No. Tahun 2008 yaitu tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana. Mitigasi diartikan sebagai upaya yang ditujukan untuk mengurangi dampak dari bencana. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (UU No. 24 Tahun 2007, Bab 1 Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 9) (PP No. 21 Tahun 2008, Bab 1 Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 6).

Mitigasi dibagi menjadi dua jenis mitigasi bencana, yaitu mitigasi bencana struktural dan non struktural yaitu sebagai berikut :

1.     Mitigasi Struktural

Mitigasi struktural adalah upaya untuk meminimalisir terjadinya bencana yang dilaksanakan dengan cara membangun berbagai sarana prasarana fisik, seperti contoh pembuatan kanal khusus untuk penvegahan banjir, alat deteksi aktivitas gunung berapi, bangunan yang tahan gempa ataupun juga Early Warning System yang berfungsi untuk mendeteksi tingginya gelombang tsunami.

2.     Mitigasi Non Struktural

Mitigasi non struktural ialah usaha untuk mengurangi dampak bencana selain upaya yang disebutkan pada mitigasi struktural, bisa seperti pembuatan suatu kebijakan atau peraturan, memberi edukasi kepada masyarakat atau capacity building, dan juga melakukan usaha penyadaran dan peningkatan pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana, bagaimana cara menyelamatkan diri dan keluarga yang hidup bertempat tinggal di daerah rawan bencana.

Ada empat hal yang dianggap penting dalam melakukan mitigasi bencana sebagai berikut :

1.     Tersedianya informasi dan juga peta kawasan rawan terjadi bencana untuk tiap-tiap jenis bencana.

2.     Melakukan sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan juga kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana, karena bermukim di daerah rawan bencana.

3.     Mengetahui hal apa yang perlu dilakukan atau tidak boleh dilakukan, serta mengetahui metode penyelamatan diri jika bencana tiba-tiba terjadi.

4.     Pengetahuan dan juga penataan kawasan daerah rawan terjadinya bencana untuk meminimalisir ancaman bencana.

Pada tahun 2005, lembaga dunia UNESCO memberikan peringkat kepada negara-negara yang rawan terjadi bencana gempa, dan hasilnya Indonesia menduduki peringkat ketujuh dalam daftar negara-negara yang paling rawan terjadinya bencana di dunia. Di Indonesia setiap tahun pasti ada kejadian bencana, baik alam maupun non alam, untuk bencana yang alam seperti gunung meletus, gempa bumi, banjir, tsunami, tanah longsor, angin puting beliung dan sebagainya, sedangkan contoh bencana non alam yaitu seperti kebakaran, bencana konflik dan sebagainya. seperti kemarin baru akhir-akhir waktu ini, gempa di majene yang bertubi-tubi karena ada gempa susulan, banjir di kalimantan, gunung merapi, gunung sinabung dan ini terlebih lagi masih musim hujan sehingga ketika intensitas hujan turun cukup lebat, maka akhirnya terjadi bencana banjir ada dimana-mana di berbagai wilayah di Indonesia. Dari terjadinya banyak bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, pasti akan berdampak pada masyarakat di suatu daerah, tidak cuma dampaknya bisa berimbas kepada aspek kerusakan fisik, tetapi juga dampak pada aspek non fisik, seperti banyak yang kehilangan saudara sanak famili dan memberi efek trauma kepada sebagian masyarakat sehingga masyarakat umumnya menjadi terganggu psikologisnya.

Di dalam perspektif lain, Indonesia sangat menjadi sasaran empuk bencana alam adalah diakibatkan karena Indonesia berada di posisi zona subduksi akibat pergerakan lempeng bumi, hal ini menyebabkan Indonesia juga terdapat banyak gunung api yang aktif atau sering disebut ring of fire. Keberadaan Indonesia berada di daerah equator yang dihimpit oleh beberapa samudera, sehingga kondisi yang demikian Indonesia memiliki kompleksitas kondisi bencana.

Yang banyak terjadi di Indonesia penanggulangan bencana dilakukan secara insidental atau reaksi, yaitu ketika baru ada bencana terjadi maka baru bertindak untuk melakukan beberapa kegiatan mitigasi bencana. Hal yang demikian ini akan sangat berbahaya apabila terus menerus dilakukan, karena tidak ada kesiapan jarak panjang sama sekali, sehingga ketika terjadi bencana alam juga permasalahannya semakin kompleks. Kesalahan-kesalahan kecil bisa menjadi besar karena proses pencegahan yang tidak terstruktur dan tertata.

Hal yang demikian itu semestinya bisa disiasati oleh baik pemerintah maupun masyarakat pada umumnya. Yaitu dengan cara pemerintah selaku pemegang kekuasaan memberikan masyarakat edukasi tentang kesiapsiagaan terhadap terjadinya bencana alam yang akan terjadi. Pemerintah memberi wawasan maupun memberi sedikit pelatihan tentang bagaimana melakukan mitigasi bencana dengan baik seumpama terjadi bencana secara mendadak dan tiba-tiba, paling tidak tiap-tiap kepala keluarga bisa mengamankan anggota keluarganya ketika terjadi bencana, sehingga memberikan rasa aman kepada anggota keluarga, dan tentunya bisa meminimalisir banyaknya jatuh korban jiwa.

Mitigasi dan juga edukasi terkait bencana sangatlah urgen bagi masyarakat untuk meminimalisir dampak yang lebih parah. Selain pemerintah mengembangkan sains dan juga teknologi tentang kebencanaan oleh para peneliti dan pakar, pemerintah juga perlu memberi edukasi kepada masyarakat, agar masyarakat sadar dan tahu, tetapi juga tidak sebatas kepada masyarakat umum, wawasan tentang kebencanaan juga kiranya perlu dan penting untuk diterapkan di pendidikan formal atau sekolah agar para peserta didik mengetahui sejak dini cara-cara mitigasi bencana yang benar.

Sebagai bahan referensi, negara Jepang pernah mengalami gempa dan juga Tsunami sebesar 8.9 skala Richter pada tanggal 11 Maret 2011 yang memakan korban jiwa sebanyak hanya sekitar 7.000 orang. Dibandingkan dengan bencana alam yang mengguncang Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang berkekuatan 8.5 skala Richter yang memakan korban mencapai 200.000 orang meninggal.

Setelah dipelajari, pemerintah negara Jepang dan masyarakatnya mengembangkan secara terus menerus sistem tanggap darurat kebencanaan, agar bisa bekerja lebih efektif yaitu dengan cara memberikan edukasi secara baik dan juga terencana kepada masyarakat tentang mitigasi bencana. Selain itu Jepang juga mengembangkan secara berkelanjutan seperti meningkatkan kesadaran masyarakat sejak dini akan dampak bencana, membangun bangunan yang tahan bila terjadi gempa, membangun jalur-jalur evakuasi bagi keselamatan masyarakat ketika terjadi bencana terlebih bagi masyarakat yang sudah usia lanjut, bahkan di Jepang ada suatu perusahaan yang membuat kapsul sebagai alat penyelamat diri ketika terjadi bencana. Selain pendidikan atau edukasi tentang mitigasi sejak dini juga ada pelatihan secara terus menerus tentang cara evakuasi tsunami atau yang biasa dikenal dengan tsunami drill.

Itulah berbagai bentuk cara metode mitigasi bencana dari negara Jepang yang bisa diadopsi oleh Indonesia untuk mengurangi dan meminimalisir dampak dan juga korban jiwa yang lebih parah lagi. Sehingga pada akhirnya tertanam nilai-nilai pada benak masyarakat untuk selalu siap sedia menghadapi bencana kapanpun dan diamanpun.



No comments:

Post a Comment