Filosofi Geografi dan Sejarah Perkembangan Geografi


 

Filosofi Geografi dan Sejarah Perkembangan Geografi


Istilah geografi pertama kali diperrkenalkan oleh seorang ahli filsafat dan astronomi terkenal bernama Eratosthenes (276-194 SM). Pada masa itu, geografi pada umumnya menceritakan berbagai tempat dipermukaan bumi sebagai hasil penjelajahan dari berbagai penjuru dunia. Ilmuwan tersebut juga orang pertama yang berhasil menghitung keliling dunia secara sistematis hingga hasil pengukuran yang dilakukan Erathosthenes tersebut menjadi dasar dalam pembuatan globe pertama yang dikembangkan oleh Chrates (150 SM). Ilmu geografi merupakan llmu pengetahuan yang dapat memandu kita untuk mengetahui fenomena-fenomena yang terjadi dimuka bumi. Geografi idak hanya membahas tentang suatu tempat, peta, gejala alam maupun fenomena fisik lainnya, melainkan juga membahas tentang interaksi antara makhluk hidup dan lainnya. Tidak heran, bahwa geografi disebut sebagai induk ilmu pengetahuan karena begitu luas dan kompleksnya objek kajian geografi. Ilmu geografi senantiasa mengalami perkembangan, dimana pada masa lalu geografi selalu menyangkut pautkan dengan metologi. Hingga kini mitologi yang dipercaya semakin menghilang dan lebih menggunakan geografi berdasarkan logika. Begitu banyak objek kajian geografi baik didalam maupun dipermukaan bumi sehingga menyebabkan pandangan bahwa geografi sebagai ilmu cukup rumit untuk dipelajari. Oleh sebab itu, perlunya dibuat sarana belajara agar dapat memudahkan dalam mempelajari geografi.

Pada mulanya geografi tidak disusun secara sistematis, hanya berupa cerita tentang suatu tempat dan penghuninya. Pengertian geografi terus mengalami perkembangan dari waktu kewaktu seiring dengan kemajuan pemahaman, pemikiran dan telaah dari manusianya. Dalam ilmu geografi juga banyak ditemui ilmuwan yang turt menuangkan pikiran untuk memberikan sumbangsih pada ilmu geografi agar para pembaca dapat memahami ilmu geografi dengan mudah.

 

A.     Filosofi Geografi

a.      Konsep Geografi

Istilah Geohistori menunjukkan dua nama disiplin ilmu, yakni geografi dan sejarah, dimana keduanya saling membantu sebagai disiplin ilmu. Geografi merupakan ilmu yang kompleks, objek material geografi sangat luas. Menurut beberapa tokoh, khususnya Indonesia terjebak pada ilmu bantu geografi dan sering bersinggungan dengan rumpun lain. Geografi juga dikatakan sebagai ilmu integratif yaitu mempelajari gejala-gejala yang terjadi di muka bumi (dalam dimensi fisik dan manusia) dengan menggunakan perspektif keruangan (spatial perspective). Suatu ilmu pengetahuan dikatakan sebagai filsafat secara sistematis apabila memiliki tiga aspek yaitu aspek ontologi, espitomologi, dan aspek aksiologi atau aspek fungsional. Dalam ilmu geografi sudah memiliki tiga aspek tersebut yaitu dibuktikan dengan keterkaitan antara satu cabang ilmu geografi dengan cabang ilmu yang lain, pada hakikatnya melalui kaitan bagian permukaan bumi dengan kehidupan manusia.

b.     Aspek Dalam Filsafat Geografi

1.   Aspek ontologi

Ontologi merupakan cabang ilmu filsafat yang mengkaji hakikat sebenarnya suatu ilmu. Oleh karena itu, para tokoh geografi khususnya Indonesia agar tidak terkjebak terhadap rumpun ilmu yang lain, para tokoh geografi perlu merujuk kembali pengertian-pengertian geografi yang dikemukakan oleh para ahli. Dalam aspek ontologi geografi mencakup interelasi, interaksi dan interpendensi didalam permukaan bumi yang berkaitan dengan space, area, wilayah dan kawasan (Utaya 2019).

Terdapat beragam definisi geografi yang berkembang saat ini, misalnya pendapat Hangget yang menyatakan bahwa Geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosferdengan menggunakan sudut kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan. Dari pengertian tersebut dapat dipahami, bahwa geografi merupakan bidang ilmu yang mempelajari integratif antara aspek fisik dan sosial. dalam melakukan kajian geosfer, seorang geograf harus melakukan tiga pendekatan utama yaitu keruangan, kelingkungan dan kewilayahan. Penekatan keruangan menekankan pada analisa sintetis terhadap variasi perbedaan lokasi dipermukaan bumi serta faktor-faktor apa yang paling dominan terhadap suatu permasalahan tersebut. Kemudian pendekatan kelingkungan menekankan pada hubungan (interaksi) antara manusia dengan lingkungan (alam), sementara itu, pendekatan kompleks wilayah adalah penggabungan antara keruanga  dan kelingkungan, analisis kompleks wilayah menekankan pada kajian komprehensif terhadap suatu wilayah yang melipitu aspek fisik dan manusia. Tiga pendekatan tersebut merupakan ciri khas ilmu geografi yang tidak dimiliki oleh ilmu yang lain.

2.   Aspek Estimologi

Epistimologi merupakan cabang filsafat yang menekan pada kajian terhadap cara mendapatkan pengetahuan secara benar.dalam hal ini ilmu geografi menggunakan metode induktif dan deduktif yang bertujuan untuk mendapatkan data data yang komprehensif terhadap kajian fenomena geosfer. Epistimologi geografi juga menggunakan analisa kualitatif dan kuantitatif, hal ini terjadi pada sejak abad 20 dimana para tokoh geografi merasa tidak cukup apabila membuktikan kebenaran hanya menggunakan kajian geografi dan analisa kuantitatif. Seiring perkembangan ilmu geografi, lalu para tokoh geografi melakukan pendekatan dengan cara menggunakan metode deduktif dan induktif. Serta menggabungakan antara analisis kualitatif dan kuantitatif. Sehingga kajian yang dilakukakan semaki komprehensif dan memiliki ciri khas tersendiri.

3.   Aspek Aksiologi

Imu geografi masih eksis hingga saat ini dan memberikan kebermanfaatan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kemampuan imajinasi geografi merupakan kemampuan dalam memaknai setiap variasi lokasi dipermukaan bumi. Sementara itu, menimbulkan sifat etis yang tercermin dan sikap peduli terhadap bangsa Indonesia (nasionalisme) serta mampu menghargai perbedaan budaya disetiap wilayah. Keterlibatan ilmu geografi menjadikan cabang ilmu yang menjelaskan, meramal dan mengontrol kemudian diaplikasikan terhadap perencanaan dan perkembangan wilayah.

 

A.    Geografi Klasik

1.     Zaman awal berkembangnya ilmu geografi. Herodotus sebagai seorang tokoh yang pelopor sejarah, mengungkap tentang bagaimana asal usul keadaan suatu tempat atau topografi dan menerangkan juga sebab terjadinya. Karena hal tersebut pula, Herodotus juga Geografi pada Zaman Yunani.

Sejarah Geografi telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Pada zaman inilah, disebut sebagai disebut sebagai bapak geografi. Pada masa ini, Herodotus membahas tentang lembah Sungai Nil dengan tanahnya yang subur terutama terdapat di daerah Delta Sungai Nil.

Eratosthenes (176-194 SM) memastikan bahwa bumi memiliki bentuk seperti bola dengan ukuran-ukuran yang detail (Yulia 2017). Kemudian dibentuk susunan garis lintang dan bujur pada bola bumi, yang gunanya untuk menentukan letak suatu negara, laut serta tempat-tempat lain hingga kemudian lahirlah sebuah peta, meskipun pada masa tersebut model peta yang dibuat masih sangat sederhana.

2. Geografi Zaman Romawi

                 Strabo (64 SM-20M), merupakan pelopor geografi kuno sebagai akibat dari perkembangan ilmu geografi yang diwariskan pada  zaman Yunani. Strabo juga ikut menuangkan pemikirannya dalam sebuah buku yang berjudul “Geographia”, yang didalam buku tersebut isinya menguraikan dunia beserta dengan isinya. Selain itu, dalam sebuah geografi terdapat aspek matematis yang kemudian diterapkan pada peta dan lokasinya, pada zaman Romawi hal semacam ini dipelopori oleh salah satu tokoh yaitu Ptolomeus.

                 Geografi sudah dikenal sejak masa Yunani Kuno, dan pada masa itu pengetahuan tentang bumi masih dipengaruhi oleh mitologi. Hingga mulai abad ke-6 SM, pengaruh mitologi semakin berkurang dan mulai memiliki dasar ilmu alam, ilmu pasti serta proses penyelidikan tentang bumi yang dilakukan menggunakan logika (Yulia 2017). Pada abad ke-19 corak susunan isi geografi hanya menguraikan penemuan daerah baru, adat istiadat dari penduduk, gejala serta sifat alam lainnya. Bersamaan dengan hal itu, kedudukan geografi sebagai Ilmu Pengetahuan juga masih dipertentangkan oleh para ahli tentang batasan dan lapangan atau objeknya.

                 Awalnya, para pelancong banyak menguraikan ruang muka bumi, selain menguraikan kejadian historis yang mereka alami. Utamanya, mereka lebih menguraikan pengalaman mereka ketika menemukan daerah yang berbeda atau berlainan dengan tempat asal mereka. pelancong juga menguraikan gejala serta ciri alam dan manusia penghuninya.

3. Tokoh Geografi Klasik

     Tokoh-tokoh yang termasuk dalam kategori geografi klasik yaitu:

a.    Anaximandros, berasal dari Yunani dan telah membuat puta bumi pada tahun 550 SM. Ia juga beranggapan bahwa bumi berbentuk silinder. Dengan perbandingan panjang dan garis tengah silinder yaitu 3:1.Bagian bumi yang dihuni oleh manusia dianggapnya adalah sebuah pulau berbentuk bulat. Karena anggapan tersebut, Anaximandros membuat peta bumi dengan bentuk yang mirip seperti jamur (Yulia 2017).

b.   Herodotus (485-425 SM), seorang ahli filsafat dan sejarah Yunani yang mengemukakan bahwa perkembangan masyarakat dan dan faktor geografi di wilayah yang bersangkutan, memiliki kaitan yang sangat erat. Pada tahun 450 SM, Herodotus membuat sebuah peta dunia sederhana dan membagi peta tersebut menjadi tiga bagian yaitu: Eropa, Asia dan Libya (Afrika). Herodotus memiliki pandangan bahwa bentuk bumi adalah bulat yang tersusun dari dua lapisan bulanaa, dengan lapisan pertama terdiri dari zat padat dengan air dan lapian keduanya terdiri dari uap yang berasal dari lapisan pertama karena pengaruh panas matahari. Banyaknya pemikiran yang telah ditaungkan di atas, Herodotus pada satu sisi dianggap sebagai ahli sejarah dan disisi lain juga disebut sebagai ahli geografis.

c.    Strabo (64 SM-24 M), seorang ahli sejarah dan geografi pada masa Yunani Kuno. Strabo mengungkapkan bahwa geografi berkenaan dengan faktor lokasi, karakteristik tertentu dan hubungan antara satu tempat dengan tempat lain secara keseluruhan pada muka bumi. Strabo juga telah memperbaiki dan melengkapi peta sederhana yang dibuat oleh Herodotus. Dalam bukunya yang berjudul “Geograpyca” terdiri dari 17 jilid dan diterbitkan satu abad sebelum masehi memebuat sintesa antara Geografi, menurut Strabo yaitu Chorografi, dan Topografi. Korelasi antara lingkungan alam dengan manusia sudah mulai tampak pada buku milik Starbo tersebut (Yulia 2017).

            Selain tokoh di atas, masih banyak lagi tokoh-tokoh pelopor geografi klasik seperti, Claudius Ptolomeus (menyusun peta dan memiliki buku berjudul Geografice Hyphegesys), Eratothenes, Pitheas dan lain sebagainya.

B.    Geografi Abad Pertengahan

Dalam sejarah perkembangannya, ilmu pengetahuan akan selalu ditemui  masa kegelapan dan masa kegemilangan. Demikian pula yang terjadi pada ilmu geografi. Pada abad pertengahan, terutama di Eropa, geografi mengalami masa kegelapannya. Abad pertengahan merupakan suatu periode panjang yang berlangsung selama kurun waktu lebih dari seribu tahun dimulai dari jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat tahun 476M (Abad V M) sampai timbulnya renaissance di Italia menjelang tahun 1500M.

Abad pertengahan sering disebut abad kegelapan dikarenakan pada abad ini tidak meninggalkan banyak catatan serta tidak begitu banyak dokumentasi sejarah dan bukti arkeologi yang ditemukan. Beberapa tokoh yang menghasilkan karya dan sumbangan bagi pertumbuhan geografi hampir tidak berarti karena mengalami penyimpangan. Penyimpangan yang terjadi ini tidak lepas dari kondisi zaman pada waktu itu. Pada abad pertengahan, gerakan keagamaan mengalami kebangkitan di Eropa. Pada masa ini, agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan serta pemerintahan. Ilmu pengetahuan, termasuk geografi, yang telah berkembang dimasa klasik terpinggirkan dan dianggap sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari ketuhanan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pengetahuan pada abad pertengahan adalah “ancilla theologiae” yang berarti ilmu pengetahuan diabadikan untuk agama. Maka tidak heran jika masa tersebut yang tampil dalam dunia ilmu pengetahuan adalah para pemuka agama. Hampir semua ilmuwan pada masa itu adalah para rohaniawan sehingga aktivitas ilmiah dikaitkan dengan aktivitas keagamaan (Setyaningsih 2019).

 

C.    Geografi Renaisans

Ketika abad pertengahan yang penuh dengan kegelapan berakhir, hasil karya para ilmuwan muslim banyak menginspirasi ilmuwan Eropa. Kegiatan ilmuwan Eropa mulai menggeliat yang kemudian memicu gerakan renaisans. Gerakan ini merambah kesemua bidang, tak terkecuali bidang keilmuan geografi. Nicolaus Copernicus dengan teori Heliosentrisnya mengawali perubahan revolusioner dalam bidang geografi. Teori tersebut membantah ajaran geosentris yang didukung dan disahkan oleh gereja. Kemudian teori Heliosentris dipertegas dan diperjelas oleh ilmuwan dari Italia Galileo Gelilei berkat penemuan teleskopnya.

Copernicus dan Galileo dengan pemikiran barunya mengubah pandangan masyarakat Eropa tentang keberadaan Bumi. Copernicus dan Galileo mempunyai pemikiran yang menyatakan bahwa Bumi ini bulat, sebagaimana pandangan Eratosthenes, dan Matahari sebagai pusat Tata Surya. Pernyataan yang menyatakan bahwa Bumi berbentuk bulat mendorong orang-orang Eropa untuk membuktikannya. Pemikiran tersebut terbukti oleh pelayaran Fernando de Magelhaenz yang berhasil mengelilingi bumi.

Pada masa ini, kartografi mengalami perkembangan sangat pesat. Kemajuan perkembangan kartografi menjadi semakin pesat karena dipicu oleh kebutuhan orang-orang untuk menemukan daerah-daerah baru tak terkecuali bangsa Eropa. Pada masa ini bangsa Eropa memasuki era penemuan, walaupun bangsa Eropa masih tertinggal dibanding bangsa Arab dalam bidang geografi, namun keinginan bangsa Eropa untuk mengejar ketertinggalan begitu kuat. Upaya mengejar ketertinggalan tersebut diwujudkan melalui kegiatan penjelajahan dunia. Bangsa Portugis menjadi pelopor kegiatan penjelajahan dunia. 

Penjelajahan dunia memicu minat para ilmuwan, termasuk para geograf. Sejak saat itu pula mulai muncul embrio tumbuhnya geografi yang lebih spesifik. Tokoh geografi yang terkenal pada saat itu adalah Bernard Varen. Ia mengemukakan bahwa geografi merupakan ilmu yang membahas kondisi bumi dan benda-benda langit. Bernard Varen membagi geografi menjadi dua yaitu geografi umum dan geografi khusus. Geografi umum mencakup tiga bagian yaitu pengetahuan tentang bumi (terrestrial), pengetahuan tentang bintang (astronomis), dan pengetahuan tentang tempat-tempat di permukaan bumi (komparatif). Geografi khusus terdiri atas tiga aspek, yaitu deskripsi tentang iklim (atmosferis), deskripsi tentang permukaan bumi (litosferis), dan deskripsi tentang keadaan penduduk (manusia) (Setyaningsih 2019).  

D.    Geografi Modern

Dalam perjalanan sejarah ilmu geografi yang kini memasuki abad 18 saat maraknya revolusi industri, merupakan sebuah bukti perkembangan ilmu pengetahuan, zaman yang semakin berkembang dan mengalami perubahan oleh karena itu ada beberapa pandangan yang dikemukakan oleh beberapa ilmuan diantaranya yaitu :

1.     Immanuel Khant

Immanuel khant adalah peletak dasar geografi modern serta pengembang salah satu faham yang bernama faham fisis determinis. Dia juga menganggap geografi merupakan suatu disiplin ilmiah. Kant mengatakan bahwa ilmu  pengetahuan dipandang dari tiga sudut yaitu :

a.      Ilmu pengetahuan yang di golong-golongkan  berdasarkan fakta Dan jenis objeknya. Ilmu yang mempelajarinya adalah ilmu sistematik. Misalnya: Botani, Geologi dan Sosiologi.

b.     Ilmu pengetahuan yang mengandung gabungan antar fakta sepanjang masa. Ilmu yang mempelajarinya adalah ilmu sejarah.

c.      Ilmu pengetahuan yang memandang fakta-fakta serta berkenaan dengan ruang.

2.     Alexander von Hunbolt.

Dalam tulisannya Hunbolt di kenal dengan peletak dasar geografi  fisika modern, seorang ahli geografi yang berminat pada pada kajian fisik Dan biologi. ia melakukan risert perjalanan ke benua Asia, di deskripsinya tentang ketinggian tempat dan vegetasi yang mendiaminya, namun ia juga tetap memperhatikan keberadaan manusia. ia membuat batas-batas  dalam ilmu pengetahuan, kemudian membaginya dalam  3 golongagolongan yaitu :

a.      Physiography. Ilmu yang sistematik.

b.     Naturchice,  ilmu yang berhubungan dengan waktu.

c.      Geognesie oder welbeschraibung,  merupakan penjelasan tentang bumi atau dunia yang membahas mengenai persebaran pola keruangan.

  Sejalan dengan penemuan hunbolt, seorang ilmuan yang bernama Karl Ritter berpendapat bahwa Alam  menjadi faktor utama karena alam yang menentukan gejala manusia ( fisis determinis).  Ritter menjelaskan bahwa bumi sebagai tempat manusia akan menawarkan batter dimana nanti sesuai dengan apa yang dilakukan manusianya dan bumi juga memberikan penawaran-penawarannyapenawaran-penawarannya.  Oleh karena itu manusia harus berfikir sebelum bertindak untuk alam karena manusia telah di karuniai fikiran untuk memperbaiki kehidupannya (Hartono 2007).

E.    Geografi Mutakhir

Menurut E.A Wrigley (1965) mengemukakan pendapatnya tentang semua metode Analisa dapat digunakan dalam kajian geografi selama analisa tersebut mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Pada arah perkembangan geografi mutakhir ini ada tiga gejala perkembangan. Roger Minshull (1970) geograf inggris dalam membahas perubahan yang dialami oleh geografi akhir – akhir ini, mencatat tiga gejala. Pertama, pada jenis bidang khusus yang studinya bertambah sampai munculnya geografi penyakit dan geografi agama sebagai spesialisasi baru. Kedua, menganalisa masalah lebih ditekankan pada kausalitas dan hubungan. Ketiga, menelaah fenomena lebih diutamakan di mananya terdapat ( jadi bukan lagi bagaimana dan mengapa) (Daldjoeni 2017). 

Dapat diselidiki lebih lanjut relasi antar gejala, misalnya letak tanah pertanian, hubungan gedung dengan jaringan jalan, pasar dan lain sebagainya. Hal ini menjelaskan bahwa dari perubahan ketiga tersebut geografi lebih jelasnya adalah studi tentang tempat, ruang, sebaran dan susunan ruang. Pandangan geografi mutakhir ditandai dengan adanya kajian – kajian geografi yang bersifat tematik dalam suatu wilayah, terutama pada interaksi antar manusia dan lingkungannya.

Perkembangan geografi pada masa ini mengarah pada bagaimana upaya dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh umat manusia. Pandangan geografi pada periode ini adalah interaksi berkaitan dengan keruangan, lingkungan dan wilayah. Ilmu geografi ini tidak diperbolehkan melepas diri dari disiplin keilmuan lainnya. Seperti disiplin ilmu pengetahuan lain, geografi juga menggunakan metode kuantitatif dan metode statistika dalam penelitian.

Unsur pokok yang dipelajari dalam geografi dibedakan menjadi dua yaitu unsur alam (fisik) meliputi aspek biologis, kimiawi dan astronomis. Sedangkan unsur kemanusiaan (sosial) meliputi ekonomis, politis, sosiologis, historis, etnografis dan antropologis. Diantara keduanya terdapat hubungan yang sangat erat karena terdapat hubungan timbal balik antara aspek alam dengan aspek kemanusiaan.




No comments:

Post a Comment