Generasi Z Bukan Generasi Apolitis
VIVA MEDIA - Politik sebagai rangkaian kebijakan publik yang berpengaruh di setiap kehidupan. Politik itu bukan hanya sekedar pemilu yang diselenggarakan 5 tahun sekali. Akan tetapi politik itu setiap hal yang menyangkut di kehidupan kita. Dari kita belum lahir sudah diurus dengan politik dan sampai mati pun terdapat undang-undang pemakaman dan sebagainya. Seluruh aspek dari kehidupan diatur oleh politik. Tetapi sayangnya definisi politik tersebut masih kabur yang seolah-olah dijadikan patokan oleh Generasi Z. Sehingga ada yang beranggapan anak muda tidak peduli pada politik.
Mungkin saja mereka (Gen Z) acuh terhadap politik tapi tetap kritis. Mereka memisahkan urusan politik dan urusan sosial, padahal keduanya tidak bisa dipisahkan. Contoh sederhananya ketika tidak ada keadilan, mereka bukan datang melapor ke pihak berwajib tetapi membuat petisi dengan hashtag melalui media-media sosial yang ada. Hal tersebut tanpa sadar mereka sudah melakukan hal yang berhubungan dengan politik. Jika negara saja tidak cukup mengurusi warga negaranya, ada warga yang berdaya bisa mengeluarkan daya yang lebih dibandingkan dengan aparat negara yang mungkin saja tidak peduli terhadap warganya.
Jika kita tidak peduli dengan hal-hal politik maka kita akan kalah berkali-kali dan akan semakin kalah. Ketika kita melepaskan apa yang bisa kita lakukan dan itu diambil alih oleh orang lain yang kerap kali bilang "Demi bangsa! demi negara!", dan ketika kita kritis berbicara disebutnya "Wah tidak mau ada persatuan". Jika kita mau membersihkan politik yang kotor, sudah seharusnya kita akan kesadaran penuh untuk bisa membedakan dari berbagai kekonyolan yang dilakukan oleh orang elit-elit yang tak budiman. Yang seharusnya tidak mengubah niatan kita untuk mau memperbaiki negeri dengan berbagai cara dan sudah seharusnya kita melihat berbagai kejahatan itu sebagai kejahatan bukan malah justru memaklumkan berbagai perilaku dari politik. Jangan memaklumi "emang itulah negeri + 62" itulah permasalahan negeri saat ini sebuah kejahatan sebagai normalitas dan dimaklumkan.
Penting sekali kita punya merasa bahwa kita punya suara dan punya hak yang berharga. Suara untuk bisa memaksakan penguasa melakukan apa yang kita kehendaki. Negara punya penguasa, uang, senjata dan kita hanya punya suara. Jangan sampai hak-hak kita dilemahkan sehingga kita tidak berani untuk bersuara. Akan ada kekuatan jika kita betul-betul percaya kekuatan diri sendiri dan itulah yang namanya politik. Jangan lihat politik sebagai tempat-tempat orang elit yang keji. Politik adalah ketika kita bisa menggunakan suara, tangan dan daya kita untuk mengubah Ibu Pertiwi kita. Banyak juga kaum muda yang takut bersuara, jika bersuara keras artinya tidak pro dalam kebaikan. Ketika kata-kata baik disematkan hanya pada kelompok tertentu dan tidak sama dengan orang itu berarti tidak baik. Itulah yang harus kita cermati dengan hati-hati. Ada upaya-upaya untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih demokratis yaitu berani bersuara.
Pada Generasi Z ini kurang puas terhadap zaman sekarang ini, memang benar zaman sekarang lebih bisa bebas berpendapat dibandingkan pada masa orde baru tetapi kurang puas juga karena tidak seimbangnya dengan kondisi dan perkembangan sekarang ini. Banyak anak muda yang enggan ikut terjun ke dunia politik. Akan tetapi lebih memilih membangun masyarakat dengan tidak perlu duduk dalam posisi kekuasaan politik yang terlalu tinggi, bisa dengan hal yang kecil yang dapat mengubah tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Kesadaran tidak banyak muncul dari bentuk program para pejabat. Tetapi pengalaman dan usaha sebagai warga Indonesia membantu sesama secara ikhlas dan empati itu bisa membantu kita menjadi warga negara yang lebih baik.
Masih banyak yang berpendapat, kita sebagai Generasi Z alangkah baiknya kita mempunyai keinginan untuk terjun ke politik. Karena kita bisa mengubah sistemnya kalau kita jadi bagian dari sistem itu. Zaman sekarang ini anak muda terutama Generasi Z masih tetap peduli dengan urusan politik. Berdasarkan survei nasional suara anak muda tentang isu-isu sosial politik bangsa tahun 2021 yang dirilis oleh Lembaga Indikator Politik Indonesia yaitu 52,8% responden mengaku yang cukup puas dalam praktik demokrasi di negara Indonesia ini, tetapi ada 64,7% responden menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik sama sekali atau tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Dalam masalah yang paling mendesak untuk diselesaikan di negeri ini adalah wabah covid 19, lalu juga masalah pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, pengangguran, pendidikan dan terutama masalah korupsi. Kita tahu bahwa hasil sensus penduduk tahun 2020 Generasi Z mendominasi penduduk di Indonesia. Jadi sebagai generasi bangsa menuju bangsa yang cerah sudah sepatutnya kita ikut berperan dalam urusan tatanan negara yang menjunjung niai demokrasi ini.
(Ulfiatun Ni’mah 2010910021, Institut Agama Islam Negeri Kudus)

No comments:
Post a Comment