Partisipasi dan Perilaku Politik Generasi-Z dalam Pemilu di Indonesia


 Partisipasi dan Perilaku Politik Generasi-Z dalam Pemilu di Indonesia

 

 

VIVA MEDIA GROUP - Manusia di dunia sejujurnya telah mengalami perkembangan dari masa ke masa. Perkembangan yang dimaksud bukan dalam arti perkembangan fisik, melainkan perkembangan dari pola pikir, tingkah laku, dan karakternya. Perkembangan manusia telah digolongkan berdasarkan generasi yang telah disepakati. Generasi manusia di pandang dari tahun mereka lahir. Telah tercatat berbagai generasi manusia, antara lain; Generasi era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca Perang Dunia II, Generasi Baby Boomers I, Generasi Baby Boomers II, Generasi-X, Generasi-Y (milenial), Generasi-Z (I- Generation), dan Generasi Alpha. Masing-masing memiliki kepribadian dan pola pikir yang berbeda.

 

Generasi-Z merupakan generasi yang lahir pada tahun 1995-2010. Generasi ini merupakan bentuk lanjutan atau peralihan dari generasi pendahulunya yakni generasi-Y. Manusia yang termasuk kedalam kelompok generasi-Z di pandang memiliki keunikan tersendiri, mereka secara lahir telah hidup berdampingan dengan adanya perkembangan teknologi informasi. Bagi generasi-Z, teknologi dan internet sudah menjadi bagian dari mereka dan seolah-olah menjadi kebudayaan global yang harus diikuti dan tidak dapat ditinggalkan.

 

Generasi-Z dapat mencari teman, informasi, dan dapat berkomunikasi dengan mudah hanya dengan perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang didukung dengan jaringan internet. Media sosial merupakan kumpulan berbagai aplikasi yang biasa gunakan oleh masyarakat generasi-Z untuk mendapatkan informasi seputar kehidupan di bidang sosial-budaya, ekonomi-industri, pendidikan, bahkan politik.

 

Pemikiran politik generasi-Z berbeda dengan generasi sebelumnya yang bersifat kelompok menjadi terkesan individual. Salah satu contoh yang dapat diambil mereka dapat berikutserta dalam pemilu. Sejak saya berada di bangku SMP pada tahun 2014, ada beberapa siswa yang dapat dikatakan mereka sudah memiliki sikap berpolitik dalam pemilihan presiden walaupun masih minim pengetahuan dengan hal itu. “Saya mendukung si A karena sejujurnya hanya sekedar ikut-ikutan dengan teman saya,” ungkap salah satu siswa. Padahal mereka belum sepenuhnya berumur untuk berikutserta dalam proses pemilihan umum (selanjutnya disingkat pemilu). Akan tetapi, pemilihan mereka secara garis besar hanya ikut-ikutan dengan orang tuanya (ruang lingkup keluarga) atau ikut-ikutan dengan temannya (lingkup masyarakat umum) dan usia ini sebenarnya tidak mengetahui karakteristik pemimpin yang baik sehingga mereka mengeluarkan suara hanya sekedar kenal dengan siapa yang akan dipilih tanpa mempertimbangkan apa visi-misi, cita-cita, tujuan, dan debat politik calon presiden di masa itu.

 

Kemudian pada tahun 2019, pemikiran politik gen-Z sudah mulai diperlihatkan karena usia mereka semakin dewasa. Kakak tertua dari generasi ini berusia 22-24, dan usia yang tergolong masih muda adalah 17-20 (lahir pada tahun 2000-an). Pada usia yang masih tergolong muda tersebut dapat dikatakan mereka adalah pemilih pemula karena baru pertama kali mereka menentukan hak pilihnya. Keikutsertaan dalam pemilu secara konvensional seperti pilpres tahun 2019 dan pilkada serentak yang sebagian dari gen-Z telah melakukannya. “Saya memilih si A karena sudah berpengalaman, dan visi-misi serta tujuan jelas dan menarik.” (Wawancara dengan narasumber 1, 30 November 2021). “Saya memilih karena kesadaran diri, mantap dengan suara hati saya, tidak ada paksaan dari keluarga. Bapak saya berkata ‘pilihlah calon yang menurutmu pantas, yang penting harus memiliki suara sendiri’.” (Wawancara dengan narasumber 1,2,3, 30 November 2021). Hal ini secara langsung menumbuhkan politik dalam demokrasi pemilu secara pribadi dan tidak ada unsur paksaan dari dalam maupun dari luar pihak manapun.

 

Selain melakukan partisipasi, terdapat perilaku berpolitik melalui media sosial mengingat mereka merupakan digital native yang dapat terhubung dengan siapa saja. Mereka memiliki cara pandang bahwa secara konvensional tidak menarik, sementara dunia maya lebih menarik (unconventional) dan tidak ketinggalan zaman. Media sosial menjadi sumber informasi yang paling dominan digunakan oleh gen-Z dan media sosial juga menjadi alat dalam berpartisipasi diskursus publik. Media sosial yang digunakan umumnya adalah Instagram, facebook, twitter, dan Youtube karena didalamnya selain menghimpun informasi seputar politik, dapat juga terkandung unsur komunikasi secara maya. Secara garis besar, Instagram menjadi media sosial (selanjutnya akan disebut medsos) yang sering digunakan gen-Z terlihat mereka halnya ikut-ikutan dengan orang lain yang semakin maju waktu, maka semakin banyak pengakses Instagram ini. Beberapa orang berpendapat bahwa orang dari gen-Z yang tidak mempunyai akun Instagram menganggap sebagai orang yang gagap teknologi (gaptek). Ini yang menjadi salah satu alasan bahwa semakin hari semakin besar pengguna atau popularitasnya dalam mengakses Instagram. Mereka secara tidak sadar melakukan politik melalui Instagram diawali dengan mem follow akun milik pejabat atau calon pejabat yang bersangkutan lalu mem follow akun seputar debat politik atau @pintarpolitik. Selain Instagram, gen-Z juga mengakses aplikasi seperti konsep pemilu yang trending di youtube ataupun siaran televisi terkait dengan debat politik. Medsos seperti facebook dan twitter juga diakses oleh berbagai kalangan usia dari gen-Z yang memiliki ketertarikan terhadap dunia politik. Bergabung dengan grup diskusi politik, mereka bisa menyatakan kesetujuan ataupun ketidaksetujuan terkait kebijakan pemerintah lalu melakukan perdebatan dengan pengguna akun facebook, twitter, atau instagram yang lain. “Sejujurnya dengan mengakses medsos yang berkaitan langsung dengan politik terutama pada pemilu lebih menarik, lebih luas informasi yang saya dapatkan, dan banyak juga postingan di Instagram menemukan meme yang lucu seputar pemilu yang ini bisa membuat saya tertawa.” (Wawancara dengan narasumber 1, 30 November 2021). Akan tetapi, jika berdasarkan fakta, masih ada informasi-informasi hoaxs yang merasahkan bagi setiap individu, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut terkait dengan informasi yang didapat.

 

Selain itu, Gen-Z menunjukkan kesadaran berpolitik seperti tidak mengambil uang kampanye, mengikuti serangkaian pemilu dan update berita seputar kepolitikan lewat medsos, serta pendidikan dalam berpolitik dianggap penting bagi generasi-Z. Medsos menjadi wadah nyata yang tepat menurut gen-Z dengan membuat sebuah gerakan-gerakan berhastag yang bertujuan untuk mengampanyekan kepedulian mereka terhadap masalah seputar sosio-kepolitikan.

 

Salah satu bentuk berpolitik yang dilakukan adalah kreatifitas mereka mulai bermunculan, seperti adanya memberikan ketidaksetujuan dan perlawanan atau menyuarakan penderitaan mereka yang dianggap ada masalah sehingga muncul pengkritikan, mendukung, atau memberi komentar singkat terhadap postingan medsos mengenai pemilu atau kebijakan pemerintah karena ini penting bagi perubahan sosial di masa yang akan datang.

 

Pada intinya pemikiran politik generasi-Z masih bersifat samar-samar. Semua kembali pada diri masing-masing. Sebagian dari mereka tertarik dalam mengikutinya dan sebagian lagi bersikap “masa bodoh” dengan hal demikian. Partisipasi dan perilaku politik gen-Z sebagian besar mereka mengikutinya dibantu oleh perangkat teknologi dan internet. Hal ini sesuai dengan kenyataan dan perkembangan zaman. Mengakses medsos sangat memberikan ketertarikan pada mereka terkait isu-isu politik yang ada. Akan tetapi, masih terdapat pengkritikan yang masih mengandung kekerasan (hinaan dan nistaan) dalam medsos. Seharusnya, pengkritikan ini disampaikan dengan cara baik, sistematis, dan menggunakan norma kesopanan yang didalamnya memiliki solusi yang menguntungkan dari kedua belah pihak. Memang kritikan biasanya menyakitkan, tapi ini yang menjadi pemerintah lebih otoriter.


(Abi Amar Zubair abiamar07@gmail.com, Institut Agama Islam Negeri Kudus)


Sumber :  http://www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP/article/view/17066 

https://scholar.google.co.id/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=JkyHAZwAAAAJ&citation_for_view=JkyHAZwAAAAJ:zYLM7Y9cAGgC,    

Wawancara dengan tiga narasumber : Fita Y, Miftahul M. A, Bayu A. K.


No comments:

Post a Comment