KEBUDAYAAN MASA KOLONIAL HINDIA BELANDA


 

KEBUDAYAAN MASA KOLONIAL HINDIA BELANDA

 

Sebelum masa kolonial datang, Indonesia telah disinggahi oleh berbagai penjajah dari bangsa asing. Masing-masing negara yang singgah ke Indonesia memberikan pengaruhnya pada seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia. Termasuk meninggalkan budaya yang dibawanya kepada negara Indonesia. Kebudayan yang ditinggalkan masa kolonial memiliki pengaruh besar terhadap tatanan kehidupan bangsa Indonesia pada saat sebelum tahun 1900 dan setelah tahun 1900 atau pada abad ke 20. Pengaruh kebudayaan Hindia-Belanda atau Indis dapat berupa fisik dan non-fisik, arsitektur bangunan, ataupun gaya hidup masyarakat pada abad ke 20.

Pengaruh Kebudayaan Masa Hindia Belanda Terhadap Gaya Hidup Masyarakat

Kebudayaan masa kolonial dicampur dengan budaya pribumi dapat juga disebut dengan budaya Indis. Kebudayaan yang dibawa bangsa kolonial perlahan membawa pengaruh terhadap gaya hidup masyarakat Hindia-Belanda. Pengaruh bangsa kolonial terhadap gaya hidup masyarakat Hindia-Belanda tersalurkan melalui lembaga formal. Lembaga formal tersebut diantaranya melalui media pendidikan, hubungan pekerjaan, perdagangan, dan media lainnya.

Gaya hidup pada masa kolonial, mengharuskan para penguasa untuk memperhatikan seluruh aspek kehidupannya. Termasuk pada aspek tempat tinggal dan penampilan, serta menjadi bangsa yang berbudaya. Perkembangan kebudayaan Indis pada bidang arsitektur mencapai perkembangan yang pesat pada abad ke-20, dimana perkembangan bukan hanya ada di kota besar namun telah sampai pada wilayah kecil. Kemajuan infrastruktur dan masyarakat sangat berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan pada sebuah kota.

Perkembangan budaya yang pesat dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah bahasa, pendidikan, dan keberadaan status sosial dalam masyarakat. Diantara faktor-faktor yang ada, bahasa lah yang menjadi faktor utama perkembangan budaya. Karena dengan bahasa lah masyarakat melakukan interaksi dengan lingkungannya di suatu wilayah. Sedangkan faktor universal mengenai perkembangan budaya meliputi bahasa, kelengkapan hidup, mata pencaharian, kesenian, ilmu pengetahuan, dan aspek religi.

Dalam hal gaya hidup, masyarakat Indis terbagi menjadi dua. Yaitu

1.     Masyarakat Indis yang hidup sebelum tahun 1900

Pada era sebelum tahun 1900, pendukung kebudayaan Indis merupakan masyarakat yang berasal dari golongan pejabat kolonial, pemilik perkebunan, dan para bangsawan.

2.     Masyarakat kebudayaan Indis setelah tahun 1900          

Pada era ini, masyarakat pendukung kebudayaan Indis telah berkembang lebih luas setelah bangsa Belanda. Adanya politik etis yang berkembang pada masa ini membuat masyarakat pribumi lebih dihargai dari sebelumnya. Para priyayi professional pada masa ini pun mendapat pendidikan gaya barat. 

 Kebudayaan Masa Hindia Belanda Pada Bidang Arsitektur Bangunan

Perkembangan kebudayaan di kota-kota Hindia-Belanda, hal yang paling terlihat adalah dari segi bangunan. Ketika seseorang membicarakan arsitektur, maka akan dikaitkan sebagai hasil dari sebuah kebudayaan. Arsitektur tidak dapat dipisahkan dari pandangan budaya maupun sebagai aksi sosial. Peninggalan semasa kolonial Hindia-Belanda pada masa itu yang berupa bangunan terlihat memiliki perbedaan dengan ciri fisik milik pribumi. Menurut Fajarwati (2011), arsitektur sebuah bangunan merupakan keberagaman atau kekhasan sebuah objek arsitektur atau susunan elemen dasar sehingga menjadikan onjek tersebut memiliki kualitas atau kekhasan yang membedakan dengan objek lainnya. Contoh peninggalan kebudayaan masa Hindia-Belanda yang terlihat dalam segi arsitektur bangunan adalah pada karakteristik rumah kauman Semarang. Kampung kuno yang tersebar di Semarang menjadi bukti sejarah yang hampir punah digerus oleh zaman.

Arsitektur Indis menjadi ciri khas bangunan yang didirikan oleh penduduk yang tinggal di tanah air dengan bercirikan perpaduan khas antara Belanda dengan Jawa. Perkembangan arsitektur Indis di Indonesia dibagi kedalam 4 periode. Yaitu

1.     Abad ke 16 sampai dengan tahun 1800-an

Pada abad ini, arsitektur masih bergaya kolonial (Eropa). Bangunan ini masih berbentuk panjang dan sempit serta belum menyesuaikan iklim.

2.     Awal abad ke 19 sampai dengan tahun 1902

Pada masa ini gaya arsitektur berbentuk neo-klasik yang disebut dengan Indische Architectur. Pada masa ini, karakter bangunan disesuaikan dengan kondisi iklim Belanda pada saat itu.

3.     Tahun 1902 sampai dengan 1920-an

Pada masa ini, pertumbuhan pemukiman Hindia-Belanda berkembang sangat pesat dengan adanya politik etis di negara jajahan. Politik etis ini mendorong terjadinya standar arsitektur modern.

4.     Tahun 1920-an sampai dengan tahun 1940-an

Arsitektur ini sudah masuk dalam standar arsitektur modern yang telah disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia. Selain menyesuaikan dengan iklim tropis Indonesia, juga disesuaikan dengan unsur arsitektur tradisional Indonesia sehingga menjadi eklektis.

Sejauh ini perkembangan arsitektur Hindia-Belanda semakin fleksibel sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin modern serta disesuaikan dengan kultur masyarakat lokal yang kemudian membentuk perpaduan antara Hindia-Belanda, lokal, serta modern.

Bukti Fisik Dan Non Fisik Mengenai Kebudayaan Hindia Belanda

1.     Bukti fisik

Terdapat beberapa bukti fisik (material culture) kebudayaan pada masa kolonial Belanda yang sampai saat ini masih digunakan dan dapat ditelusuri, yaitu:

a.      Artefak Perkebunan Kebudayaan Hindia Belanda di Indonesia.

Artefak merupakan benda alam yang sengaja dibuat manusia atau menampakkan jejak-jejak buatan tangan manusia yang dilakukan dengan cara mengurangi atau menambahi benda tersebut. Pada situs perkebunan Batu Lawang di Banjar, terdapat beberapa artefak yang mencerminkan kebudayaan Hindia Belanda pada saat itu, artefak teersebut yaitu alat-alat makan, perlengkapan rumah tangga, dan juga dokumentasi foto-foto yang sudah lama.

Artefak perkebunan berupa alat makan  yang masih dapat dilihat diantaranya yaitu:

1.     Cangkir berkeruk dan bergagang.

2.     Piring oval besar, piring bulat sedang, vas bunga bulat, pinggan oval bertutup, serta beralas.

3.     Almari baju yang terbuat dari kayu memiliki dua pintu dengan cermin yang besar dan meja yang terbuat dari marmer dengan kaki-kakinya yang terbuat dari kayu.

Alat-alat diatas diperkirakan di produksi pada pabrik yang sama, dapat dilihat dari corak, motif serta gambarnya. Di balik dasar alat makannya terdapat gambar “serangkaian daun” yang memayungi tulisan “RC” dengan tulisan made ini Japan, dan gambar dua kipas. Meskipun made ini Japan, barang-barang yang terbuat dari keramik, kayu dan marmer tersebut lahir pada masa Kolonial Belanda. Hal ini dapat dibuktikan dengan ciri khas dari keramiknya sendiri memiliki tekstur yang halus, volume tipis, berarna cerah, memiliki motif naga dan motif phoenix, ini yang menunjukkan keramik tersebut adalah keramik Eropa.

Pada masa sebelum datangnya Eropa, keramik digunakan sebagai perlengkapan rumah tangga dan digunakan pada ritus penguburan, namun setelah datang keramik dari Eropa yang dibawa oleh orang-orang Belanda, keramik tersebut mengalami penurunan dari segi nilai guna, yaitu hanya digunakan sebagai hiasan-hiasan rumah. Orang-orang pribumi kelas atas banyak meniru orang Eropa dalam menata rumahnya, dan sampai saat ini hal tersebut masih dianut oleh masyarakat pribumi dan telah membudaya.

b.     Lapangan tenis perkebunan





Adanya lapangan tenis di perkebunan Batu Lawang Banjar di Desa Batulawang pada waktu itu, yang sekarang telah dipindahkan di Emplassemen pemukiman Afdeling Ciaren Perkebunan batulawang, juga merupakan bukti fisik adanya artefak yang pada masa Hindia-Belanda. Fungsi lapangan tersebut tidak jauh berbeda dengan fungsi awalnya, hanya saja ada beberapa penggantian elemen yang rusak dan diperbaiki. Kegiatan tenis rutin tampak dilakukan oleh pejabat-pejabat perkebunan yang memiliki kulit putih dan jabatan tinggi pada masa Kolonial Belanda.

1.     Bukti Non – Fisik

Bukti non fisik dalam kebudayaan hibrid sebagai hasil pertemuan dari dua budaya yang berbeda (Barat dan Timur), akibat dari adanya perkawinan campuran antara laki-laki Eropa (Belanda) dan perempuan pribumi asli Indonesia (Sunda). Awalnya bangsa barat yang datang ke wilayah Nusantara untuk menjelajah dan berdagang pada abad ke-15 Masehi, kemudian terjadilah perkawinan campuran dua budaya.

Bukti non fisik lahirnya struktur sosial khas perkebunan yang pernah hidup di zaman Belanda, yang sebagian masih berlaku sampai sekarang. Peran penting artefak perkebunan menunjukkan telah lahirnya kebudayaan hibrid, karena keberadaan artefak tersebut terkait dengan status sosial ekonomi pemiliknya dahulu. Kemudian keberadaan golongan peranakan dan struktur sosial khas perkebunan, sebagai bukti telah terjadi proses hibriditasi dalam masyarakat perkebunan di masa lalu. Bukan hanya percampuran antara dua ras yang berbeda, Barat dan Timur, juga antara dua status sosial yang tidak sama, yaitu antara pejabat tinggi perkebunan dan pegawai rendahan atau buruh perkebunan.

Bukti non fisik kelas sosial dalam sistem Landeliijk Stelsel masa Raffles pada tahun 1811-1816, kelas sosial pada masyarakat jawa dibentuk sedemikian rupa oleh kolonialis Belanda yang tentu saja untuk memuluskan kepentingan mereka untuk tetap menguasai sebanyak mungkin tanah jajahan yang sudah menjadi “milikinya”. masyarakat jawa saat itu bisa digolongkan menjadi empat kelompok yaitu : Pertama, golongan Cina yang merupakan bangsa pendatang yang sampai ke Nusantara dengan menggunakan perahu dan jumlah mereka terus bertambah setiap harinya . Kedua, orang Moor mereka berasal dari penduduk India yang berasal dari pantai Koromandel dan Malabar. Akan tetapi setelah ditettapkannya aturan monopoli perdagangan oleh Belanda, kapal dagang orang-orang Moor ini tidak dapat berlayar ke Jawa. Ketiga, orang Arab yang sebagian besar terdiri dari kalangan para pedagang dan ulama yang tidak hanya terlibat pada unsur perdagangan tetapi juga melakukan konversi masyarakat Nusantara ke dalam Islam. Kehadiran para pedagang ini pula yang kemudian membuat denyut ekonomi yang bersifat terbatas oleh kompeni dan kemudian pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Keempat, golongan budak yang dianggap memiliki fungsi dan kedudukan yang khas.

 


 

No comments:

Post a Comment